Apa Itu Desain Interior Industrial? Ciri, Konsep, dan Inspirasi Lengkapnya
Apa Itu Desain Interior Art Deco? Sejarah, Ciri Khas, dan Kenapa Gaya Ini Kembali Populer
- Last Update: Agustus 25, 2026
- Penulis: Siti Aisyah

Ada momen ketika Anda masuk ke sebuah ruangan, dan sebelum sempat berpikir, Anda sudah merasakan sesuatu: dramatis, elegan, seolah ruangan itu memiliki kepercayaan diri yang tidak perlu dibuktikan. Kemungkinan besar, Anda baru saja masuk ke ruangan bergaya Art Deco.
Gaya ini bukan sekedar soal warna emas dan motif geometris. Di balik tampilannya yang kuat dan penuh karakter, desain interior Art Deco menyimpan filosofi yang sangat modern: bahwa keindahan dan fungsi bisa berjalan beriringan, bahwa kemewahan tidak harus berarti rumit, dan bahwa sebuah ruangan seharusnya membuat penghuninya merasa memasuki era yang lebih gemilang.
Setelah sempat dianggap ketinggalan zaman, Art Deco kini kembali dengan cara yang mengejutkan banyak desainer. Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai reaksi. Di artikel ini, tim desainer POJAHOME akan mengupas tuntas: apa itu Art Deco, dari mana asalnya, mengapa gaya ini sangat relevan di Indonesia, apa saja ciri khasnya, bagaimana palet warna dan material utamanya, dan mengapa pada 2026 ini justru semakin banyak pemilik rumah yang meliriknya kembali.
Apa Itu Desain Interior Art Deco?

Art Deco adalah gaya seni dekoratif dan desain interior yang lahir di Eropa pada awal abad ke-20, mencapai puncak kejayaannya antara 1920-an hingga 1940-an, dan hingga kini tetap dianggap sebagai salah satu gaya desain paling ikonik yang pernah ada.
Nama “Art Deco” sendiri merupakan penyingkatan dari “Arts Décoratifs”, diambil dari nama pameran besar yang digelar di Paris pada 1925: Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes. Pameran inilah yang secara resmi memperkenalkan gaya ini ke panggung dunia, meskipun akarnya sudah tumbuh sejak beberapa tahun sebelumnya.
Secara filosofi, Art Deco lahir sebagai jawaban atas dua hal yang saling bertentangan. Di satu sisi, ia menolak kerumitan ornamental berlebihan dari gaya Art Nouveau yang mendahuluinya. Di sisi lain, ia juga tidak mau menyerah pada dinginnya fungsionalisme murni yang mulai diusung oleh gerakan modernisme Bauhaus. Art Deco memilih jalurnya sendiri: elegan namun tegas, dekoratif namun terstruktur, mewah namun modern.
Itulah yang membuat gaya ini tidak pernah benar-benar pergi, bahkan di tengah dominasi berbagai tren yang datang dan pergi selama satu abad terakhir.
Art Deco di Indonesia: Lebih Dekat dari yang Anda Kira
Sebelum membahas bagaimana menerapkan Art Deco di rumah, ada satu fakta tentang Indonesia yang masih jarang diketahui publik luas: pada 2014, UNESCO menetapkan Bandung sebagai kota dengan koleksi bangunan Art Deco terbanyak dan terlengkap di dunia.
Ini bukan kebetulan. Pada era 1920-an, ketika pemerintah Hindia Belanda berencana memindahkan ibu kota kolonial dari Batavia ke Bandung, mereka membangun berbagai gedung perkantoran, hotel, dan fasilitas publik dengan gaya arsitektur yang sedang populer saat itu di Eropa, yaitu Art Deco. Hasilnya adalah deretan bangunan ikonik yang sampai hari ini masih berdiri megah di Jalan Asia Afrika dan sekitarnya: Gedung Merdeka, Hotel Preanger, De Majestic, hingga Vila Isola yang kini menjadi bagian dari kampus Universitas Pendidikan Indonesia.
Yang paling ikonik di antaranya adalah Hotel Savoy Homann. Dirancang ulang oleh arsitek Belanda Albert Aalbers antara 1937 hingga 1939, hotel ini mengadopsi aliran Art Deco Streamline Moderne: garis horizontal yang kuat, fasad melengkung, dan interior yang menggabungkan kaca patri, lampu gantung besar, lantai marmer, serta furnitur berdesain geometris. Hotel ini pernah menjadi tempat menginap para pemimpin dunia saat Konferensi Asia Afrika 1955, termasuk Soekarno, Jawaharlal Nehru, dan Zhou Enlai.
Artinya, Art Deco bukan gaya asing yang kita impor dari luar. Ia sudah menjadi bagian dari DNA arsitektur Indonesia jauh sebelum kita mengenal istilahnya secara formal.
Kami sering mendapatkan klien yang terinspirasi dari hotel-hotel heritage Bandung atau dari lobi apartemen mewah di Jakarta, lalu ingin membawa nuansa yang sama ke hunian pribadi mereka. Justru dari inspirasi lokal itulah biasanya hasil desain yang paling autentik lahir.
Sejarah Singkat: Dari Paris 1925 ke Rumah-Rumah Modern
Untuk benar-benar memahami Art Deco, kita perlu memahami konteks di mana ia lahir.
Awal 1920-an adalah masa yang penuh kontradiksi. Dunia baru saja keluar dari Perang Dunia I yang menghancurkan. Di tengah trauma kolektif itu, muncul hasrat yang kuat untuk merayakan kehidupan kembali, untuk bersikap optimis, untuk tampil glamor. Musik jazz mengisi udara. Perempuan mulai memotong rambut dan mengenakan gaun tanpa lengan. Teknologi melaju pesat: mobil, pesawat, radio, gedung pencakar langit.
Art Deco adalah ekspresi visual dari semua itu. Garis-garisnya yang tegas mencerminkan kecepatan dan kemajuan teknologi. Motif geometrisnya terinspirasi dari berbagai peradaban yang sedang dijelajahi saat itu: seni Aztec, hieroglif Mesir, ukiran Afrika. Material mewah yang digunakannya, seperti eboni, kulit buaya, krom, marmer, dan enamel, mencerminkan kemakmuran yang ingin diraih kembali.
Ketika Depresi Besar melanda di akhir 1920-an dan Perang Dunia II mengubur semangat itu, Art Deco pun meredup. Ia dianggap terlalu mewah untuk zaman yang menuntut penghematan. Desain beralih ke arah yang lebih sederhana dan fungsional.
Namun gaya yang sejati tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu.
Mengapa Art Deco Kembali Populer di 2026?

Kebangkitan Art Deco saat ini bukan tren musiman yang akan hilang dalam dua belas bulan. Ada beberapa alasan mendasar mengapa gaya ini kembali relevan, dan memahaminya penting sebelum Anda memutuskan untuk mengadopsinya di rumah.
Reaksi terhadap minimalis yang terlalu steril
Selama lebih dari satu dekade, minimalis mendominasi dunia desain interior. Dinding putih, furnitur polos, “less is more”. Prinsip ini memang indah dalam porsinya, tapi banyak orang mulai merasa kehilangan karakter dan kehangatan. Art Deco menawarkan kontras yang menyegarkan: berani, berkarakter, dan penuh kepribadian tanpa harus terasa berantakan.
Perayaan 100 tahun Art Deco
Tahun 2025 menandai satu abad sejak pameran Paris 1925 yang melahirkan gaya ini secara resmi. Berbagai majalah desain internasional, pameran furnitur, dan brand material merayakan momen ini dengan meluncurkan koleksi dan editorial bertema Art Deco, yang secara alami meningkatkan eksposur dan minat publik.
Kerinduan akan kemewahan yang terstruktur
Para desainer interior di berbagai negara mencatat satu fenomena yang sama: klien semakin ingin rumah yang terasa “punya cerita”, yang mencerminkan kepribadian kuat, bukan sekadar mengikuti template. Art Deco, dengan kemewahan geometrisnya yang terstruktur, menjawab kebutuhan itu dengan sempurna.
Kemudahan adaptasi
Art Deco tidak harus diterapkan secara total. Satu lampu sunburst, sepasang kursi berlengan, atau panel dinding geometris sudah cukup untuk menghadirkan karakternya. Fleksibilitas inilah yang membuatnya mudah masuk ke berbagai tipe hunian, dari apartemen kecil hingga rumah tapak yang luas.
8 Ciri Khas Desain Interior Art Deco

Inilah elemen-elemen yang membentuk identitas visual Art Deco. Sebuah ruangan tidak harus memiliki semua elemen ini sekaligus, tapi semakin banyak yang hadir, semakin kuat karakter Art Deco-nya.
1. Geometri yang Tegas dan Simetris
Ini adalah DNA dari Art Deco. Segitiga, trapesium, zigzag, chevron, hexagon, sunburst, dan fan shape adalah motif-motif yang selalu hadir, baik pada karpet, wallpaper, panel dinding, plafon, furnitur, hingga detail hardware sekecil gagang pintu. Yang membedakannya dari sekadar “motif geometris biasa” adalah penempatannya yang selalu simetris dan terstruktur, tidak acak.
2. Warna Kontras yang Dramatis
Art Deco tidak bermain aman dalam soal warna. Kombinasi hitam dengan emas, navy dengan krem, hijau zamrud dengan perak, atau merah maroon dengan champagne adalah paduan yang khas. Kontras yang kuat ini menciptakan kesan dramatis yang menjadi tanda tangan gaya ini.
3. Material Mewah dengan Kilap Terstruktur
Marmer, kuningan, krom, kaca bevel, lacquered wood (kayu berlapis lacquer mengkilap), dan velvet adalah material utama Art Deco. Semuanya memiliki satu kesamaan: permukaan yang memantulkan cahaya dengan cara tertentu, menciptakan kedalaman visual yang tidak bisa didapat dari material matte biasa.
4. Furnitur Bervolume dengan Siluet Geometris
Furnitur Art Deco cenderung berukuran besar dan memiliki siluet yang tegas. Kursi berlengan lebar dengan bantalan tebal, sofa dengan kaki runcing dari kuningan, lemari dengan front panel geometris, meja dengan kaca bevel atau top marmer, semuanya mencerminkan keyakinan bahwa furnitur bukan sekadar fungsional, melainkan juga patung tiga dimensi dalam ruangan.
5. Pencahayaan sebagai Elemen Seni
Lampu dalam gaya Art Deco bukan sekadar sumber cahaya. Ia adalah karya seni yang juga berfungsi menerangi. Chandelier dengan desain stepped atau tiered, lampu dinding dengan motif fan, standing lamp dengan base geometris dari kuningan, atau pendant light dengan shade kaca berwarna adalah elemen pencahayaan yang paling sering mengidentifikasi ruangan sebagai bergaya Art Deco.
6. Motif Sunburst dan Fan sebagai Aksen Utama
Dua motif yang paling identik dengan Art Deco adalah sunburst (lingkaran dengan garis-garis memancar keluar seperti matahari) dan fan (setengah lingkaran berlapis seperti kipas). Keduanya muncul di cermin, headboard, panel dinding, hardware lemari, hingga detail grille ventilasi.
7. Dinding dengan Panel dan Aksen Berlapis
Dinding polos hampir tidak ada dalam desain Art Deco yang otentik. Panel kayu dengan finishing lacquer, wall moulding bertingkat, wallpaper bermotif geometris, atau kombinasi cermin bevel yang disusun secara simetris adalah cara Art Deco “mengisi” dinding agar tidak terlihat kosong. Setiap bidang dinding dianggap sebagai kesempatan untuk mengekspresikan karakter.
8. Kaca Bevel dan Cermin sebagai Elemen Dekoratif
Kaca bevel adalah kaca yang tepinya dipotong miring sehingga memantulkan cahaya dengan cara yang berbeda dari kaca biasa. Dalam gaya Art Deco, kaca bevel digunakan pada pintu lemari, panel dinding, divider ruangan, hingga aksen cermin. Fungsinya bukan hanya estetika, tapi juga memperluas kesan ruang secara visual.
Palet Warna Desain Interior Art Deco
Warna dalam Art Deco dipilih dengan pertimbangan yang sangat spesifik: mereka harus kuat secara individual, tapi tetap harmonis saat dikombinasikan. Tidak ada warna pastel lembut di sini. Semua pilihan warnanya punya “keberanian”.
Warna Utama (Fondasi Ruangan)
| Warna | Kode (Approx.) | Fungsi |
|---|---|---|
| Hitam pekat | #0D0D0D – #1A1A1A | Dinding aksen, furnitur, detail |
| Krem / champagne | #F5F0DC – #EDE0B0 | Dinding utama, latar netral |
| Putih gading | #FAF7F0 | Plafon, dinding sekunder |
| Abu gelap | #3D3D3D – #555555 | Alternatif hitam yang lebih ringan |
Warna Metalik (Jiwa Art Deco)
| Warna | Kode (Approx.) | Fungsi |
|---|---|---|
| Emas / gold | #C9A84C – #D4AF37 | Hardware, frame, detail furnitur |
| Kuningan antik | #B5A642 – #A08C2E | Fixture lampu, handle, ornamen |
| Perak / chrome | #C0C0C0 – #A9A9A9 | Detail modern, alternatif emas |
Warna Aksen (Jewel Tones)
| Warna | Kode (Approx.) | Fungsi |
|---|---|---|
| Hijau zamrud | #008000 – #006400 | Upholstery, aksesori, wallpaper |
| Biru navy | #001F5B – #003080 | Dinding aksen, karpet, kain |
| Merah maroon | #800020 – #6B0015 | Bantal, tirai, detail dekoratif |
| Ungu terong | #4B0082 – #380060 | Aksen mewah yang dramatis |
| Oranye tembaga | #B87333 – #9A5F24 | Furnitur, detail tembaga |
Tips dari desainer: Kunci penggunaan warna Art Deco yang berhasil adalah rasio yang tepat antara gelap dan terang. Jangan takut menggunakan hitam dalam porsi yang signifikan, karena justru itulah yang membuat warna aksen seperti emas atau zamrud terlihat bersinar. Hitam bukan “penggelap ruangan” dalam gaya Art Deco, melainkan kanvas yang memaksimalkan semua warna di sekitarnya.
Material Utama Desain Interior Art Deco
Tidak seperti gaya Mediterania atau Tropis yang mengutamakan material natural mentah, Art Deco memilih material yang sudah “diproses” dan “diolah”: dipoles, dilapisi, dibentuk presisi. Kesempurnaan finishing adalah standar Art Deco.
Marmer
Marmer adalah material paling prestisius dalam repertoar Art Deco. Digunakan untuk lantai, countertop, meja, bahkan panel dinding, marmer hadir dalam berbagai pilihan: marmer putih Carrara dengan urat abu-abu untuk kesan bersih dan kontemporer, marmer hitam Marquina untuk drama maksimal, atau marmer hijau Guatemala untuk nuansa mewah yang lebih berani.
Di Indonesia, marmer lokal dari Tulungagung (marmer putih) dan beberapa daerah lain sudah sangat memadai sebagai alternatif marmer impor dengan kualitas yang tidak kalah.
Kuningan dan Logam Bertones Hangat
Kuningan, tembaga, dan bronze adalah logam yang paling identik dengan Art Deco. Berbeda dengan stainless steel yang dingin dan modern, ketiga logam ini memancarkan kehangatan yang khas. Digunakan pada fixture lampu, handle pintu dan laci, frame cermin, kaki furnitur, hingga detail grille ventilasi, logam berwarna hangat ini adalah “lem visual” yang mengikat seluruh elemen Art Deco dalam satu ruangan menjadi kohesif.
Kayu dengan Finishing Lacquer
Kayu dalam gaya Art Deco tidak dibiarkan terlihat “mentah”. Ia dipoles, dipernis, atau dilapisi lacquer hingga mengkilap. Jenis kayu yang paling sering digunakan secara historis adalah eboni (hitam), rosewood (cokelat kemerahan), dan walnut (cokelat tua). Di konteks Indonesia, kayu jati atau mahoni yang difinishing gelap dan mengkilap bisa menjadi alternatif yang sangat baik dengan karakter serupa.
Velvet dan Kain Berstruktur
Tekstil dalam Art Deco adalah soal tekstur dan warna, bukan kelembutan atau kenyamanan semata. Velvet adalah pilihan utama karena kemampuannya menyerap cahaya secara unik dan menghasilkan efek yang berubah-ubah tergantung sudut pandang. Warnanya mengikuti jewel tones: biru midnight, hijau botol, ungu, atau merah anggur. Untuk iklim Indonesia, velvet tipis atau bahan semi-velvet lebih disarankan dibanding velvet tebal yang akan terasa panas.
Kaca Bevel dan Cermin
Kaca adalah material yang tidak bisa dipisahkan dari Art Deco. Kaca bevel pada lemari dan pintu, cermin besar dengan frame geometris, kaca berwarna sebagai panel dekoratif, semuanya berkontribusi pada kualitas visual Art Deco yang “glittery” dan berkilau tanpa terasa norak.
Art Deco Modern vs Art Deco Klasik: Mana yang Lebih Relevan untuk Hunian Anda?
Ini adalah pertanyaan yang sering datang ketika klien mulai serius mempertimbangkan gaya ini.
Art Deco klasik atau periode (1920-an hingga 1940-an) menggunakan semua elemen secara penuh dan konsisten: dinding berpanel, plafon bertingkat, furnitur besar bergaya periode, material orisinal, dan dekorasi yang sangat elaboratif. Hasilnya adalah ruangan yang terasa seperti masuk ke era tertentu. Memerlukan ruangan yang cukup luas dan investasi yang signifikan agar tidak terasa berdesak-desakan.
Art Deco modern atau kontemporer mengambil elemen kunci Art Deco, seperti geometri, material metalik, warna kontras, dan motif sunburst, lalu mengintegrasikannya ke dalam ruangan yang secara keseluruhan tetap terasa bersih dan modern. Satu atau dua statement piece Art Deco di ruangan yang lebih minimalis sering menghasilkan efek yang justru lebih kuat dan elegan dibanding penerapan total.
Untuk hunian di Indonesia, khususnya apartemen atau rumah tapak di perkotaan, pendekatan Art Deco modern jauh lebih praktis dan menghasilkan hasil yang lebih mudah dinikmati sehari-hari. Pendekatan ini juga lebih mudah dieksekusi secara bertahap, sehingga Anda tidak perlu merombak seluruh ruangan sekaligus.
Apakah Art Deco Cocok untuk Rumah dan Apartemen di Indonesia?

Jawaban singkatnya: sangat bisa, dengan beberapa penyesuaian yang tepat.
Art Deco secara historis memang lahir di iklim Eropa, tapi prinsip-prinsip utamanya sangat adaptif. Berikut panduan penyesuaian yang kami terapkan dalam proyek-proyek klien POJAHOME:
Material perlu adaptasi iklim
Velvet tebal diganti dengan velvet tipis atau bahan serupa yang lebih breathable. Lacquered wood perlu finishing anti-lembap karena kelembapan udara Indonesia lebih tinggi. Logam kuningan perlu perawatan rutin agar tidak cepat oksidasi di iklim tropis.
Sirkulasi udara tetap prioritas
Furnitur Art Deco yang besar tidak boleh mengorbankan ventilasi alami. Tata letak harus tetap mempertimbangkan aliran udara, terutama jika ruangan tidak menggunakan AC.
Material lokal bisa menggantikan yang impor
Marmer Tulungagung untuk lantai dan countertop, kayu jati atau mahoni untuk furnitur berlacquer, besi tempa lokal untuk detail geometris, semua ini tersedia secara lokal dan bisa menghasilkan karakter Art Deco yang sangat baik.
Proporsi disesuaikan dengan luas ruangan
Untuk apartemen dengan luas terbatas, Art Deco bisa diterapkan lewat beberapa elemen kunci saja: cermin sunburst, lampu kuningan geometris, panel dinding sederhana, dan dua atau tiga aksesoris bermotif geometris. Cukup untuk menghadirkan karakter tanpa membuat ruangan terasa sesak.
Dalam pengalaman tim POJAHOME mengerjakan proyek-proyek bergaya Art Deco di Jakarta dan sekitarnya, justru ruangan dengan luas menengah yang didesain dengan pendekatan Art Deco modern menghasilkan transformasi visual yang paling dramatis dan memuaskan klien.
Cara Memulai: 5 Langkah Menerapkan Art Deco di Rumah Anda
Tidak perlu renovasi total untuk menghadirkan jiwa Art Deco. Pendekatan bertahap justru lebih efektif karena memberi Anda waktu untuk merasakan setiap perubahan sebelum melangkah lebih jauh.
- Pilih satu statement piece sebagai anchor. Cermin sunburst besar, lampu gantung kuningan geometris, atau headboard berdesain Art Deco adalah titik mulai yang paling efektif. Satu elemen kuat ini akan “mengarahkan” seluruh ruangan ke karakter yang Anda inginkan.
- Perkenalkan kontras hitam-emas. Ganti handle lemari atau laci yang ada dengan handle kuningan berbentuk geometris. Tambahkan bingkai foto atau cermin hitam matte. Langkah kecil ini memberikan dampak visual yang jauh lebih besar dari yang Anda perkirakan.
- Gunakan karpet bermotif geometris. Karpet adalah cara paling terjangkau untuk mengubah karakter ruangan secara signifikan. Pilih karpet dengan motif chevron, hexagon, atau pola Art Deco klasik dalam warna navy, emas, dan krem.
- Tambahkan satu panel dinding atau wallpaper bermotif. Tidak perlu semua dinding. Satu feature wall dengan wallpaper geometris atau panel kayu berlacquer sudah cukup untuk menjadi titik fokus yang kuat.
- Perhatikan detail hardware dan aksesori. Switch lampu, handle pintu, vas, asbak dekoratif, nampan emas di atas coffee table. Art Deco ada di detail, dan detail inilah yang membedakan ruangan yang “mencoba Art Deco” dengan ruangan yang benar-benar berkarakter Art Deco.
Desain interior Art Deco bukan sekadar tren yang datang dan pergi. Ia adalah gaya yang sudah melewati ujian waktu selama satu abad, pernah redup, tapi selalu kembali karena menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh gaya lain: keberanian visual yang terstruktur, kemewahan yang punya alasan, dan karakter yang tidak perlu meminta persetujuan siapapun.
Di Indonesia, gaya ini bahkan memiliki akar historis yang kuat, dari deretan bangunan ikonik di Bandung hingga lobi-lobi hotel heritage yang masih berdiri megah hingga hari ini. Menerapkan Art Deco di rumah bukan berarti meniru masa lalu, melainkan mengambil prinsip terbaiknya dan menghadirkannya dalam konteks kehidupan modern Anda.
Jika Anda ingin mewujudkan interior bergaya Art Deco, baik dalam pendekatan modern yang lebih ringan maupun versi yang lebih penuh dan dramatis, POJAHOME siap membantu. Sebagai jasa desain interior yang berpengalaman menangani berbagai gaya hunian di Jakarta, dan Jabodetabek, tim kami terbiasa menerjemahkan referensi visual menjadi ruangan yang benar-benar dapat Anda tinggali dengan nyaman. Konsultasikan visi Anda bersama kami untuk langkah pertama.
Related Articles
10 Ide Desain Kitchen Set Minimalis untuk Rumah Jabodetabek
Apa Bedanya Furniture dan Mebel? Ini Penjelasan Lengkapnya
10 Contoh Denah Rumah Minimalis Terbaru 2025
Ukuran Kitchen Set Ideal untuk Dapur Minimalis Modern
Rincian Biaya Desain Interior Apartemen: Dari Konsultasi Hingga Selesai
